Senin, 03 Desember 2012

terpaku ku olehmu

aku merasa bosan dalam penat. aku merasa tersakiti dalam lorong sepi. aku merasa terjerembab dalam parit  yang mematikan dan meredam pindar. lalu kau datang dengan wajah renyuh dan tak berdosa, mengangkatku dari kegelisahan dan mencumbuku dengan hanyut tak terbendung. tak terpakukah aku?

aku merasa lusuh dalam keindahan. aku merasa tak bernyawa dalam keengganan. aku merasa terkungkung dalam sangkar yang tak kukenali. lalu kau datang, kau lagi, lelaki yang tak dapat kusentuh namun menatapku cemas. kau mengambil kunci emas lalu membukanya, merambatiku dengan rasa sejuk tak terkira. lalu kau pergi dan membiarkanku. tak terpakukah aku?

aku berkerudung keringat, menangis dalam ketelantaran. aku tak tahu ini, tak tahu itu. sekejab larut dalam untaian hujan dan tersesat di ujung hati yang beku. aku berteriak, berharap kembali pada pelangi dan melihat matahari merona. tapi tak ada sosok yang peka dan kemudian kau datang, lagi lagi kau! kau menyekaku dengan semerbak mawar yang khas. kau menyentuhku dengan jari yang kasar namun penuh kelembutan. tak terpakukah aku?

dan ketika langit temaram, aku berteman air yang beriak riak dan guguran cahaya bulan yang setia. menatap lekat pada bendungan rindu yang dalam. ia tidak mengalir dan berhilir mudik dalam kekakuan. dalam diam yang menenggelamkan tanya dan timbul dipermukaan. lalu kau datang. aku memupuk sadar dalam keenyahan. ternyata memang kau. kau yang mengangkatku dari kegelisahan , mencumbuku dengan hanyut, merambatiku dengan sejuk, menyekaku dengan semerbak mawar, menyentuhku dengan jari kasar. kita berkutat dalam bisu dan tikaman dari sorot matamu. sekali lagi, tak terpakukah aku jika kau begitu menusukku? dalam waktu yang ku tak ingin cepat beranjak seperti fajar yang menyapa, aku lekat dalam pendar tak terperi. lalu kau menggenggam erat punggung tanganku, lagi-lagi, kau membuatku terpaku. merapatkanku di dadamu yang lapang dan bidang dan membawaku kedalam hangat yang bahkan perapian dikamarku tak mampu mengalahkannya. aku terpaku!!! entah Tuhan mengirimmu dari dimensi mana, entah Tuhan mengirimmu untuk apa, tapi aku tak mau ruhmu memudar, walau fajar menyapa ribuan tahun lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar