Botol demi botol aku kumpulkan untuk dijual kepada penampung . hasilnya tidak seberapa memang, tapi cukup bagiku dan adik cantikku Anissa . Kami hanya hidup berdua di Jakarta dan yatim piatu . Hari ini tidak terlalu banyak botol yang kudapatkan, karung yang kubawa pun tidak terisi penuh . Padahal, orang-orang Jakarta sangat bergantung pada minuman botol . Mungkin sudah diambil pemulung lain, begitu pikirku . Ahh, memang bukan rezeki ku .
Namaku Aisyah, inilah pekerjaanku, pemulung . Aku bangga, karena ini pekerjaan halal, walau terkadang sebagian orang memandang sebelah mata . Bagiku, pekerjaan ini lebih baik daripada menjadi pencuri atau pengemis . Hari ini aku sudah mengelilingi beberapa taman dan tempat umum lainnya dengan membawa karung dan tongkat untuk mengait botol, sama seperti pemulung lainnya .
Aku berhenti berjalan sejenak, melepas lelah dan duduk dibangku panjang bercat hijau yang dipinggirannya ada pot bunga . Seperti biasa, Jakarta sangat panas . Aku mengusap peluh yang bercucuran di dahiku . Aku layangkan pandangan sejauh mungkin menyusuri kegiatan disekeliling taman . Disisi kanan ada beberapa pelajar yang duduk melingkar dan tertawa lepas . .
"lo tau gak, yang kemarin Bu Lisma manggil gue tuh, ya ampun ternyata dia cuma nyuruh gue beli susu ultra di koperasi ! gila, udah merinding disco gue padahal, dia kan killer abis", ujar si pelajar yang memakai sweater merah lalu mengibaskan rambutnya . Aku tertawa pelan . Seperti syahrini gayanya !
"biasalah, dia kan emang sensitif, wajar kali kalau lo merinding disco gitu", sahut temannya yang mengisap lollypop .
"sensitif? test pack kali", balas si sweater merah dan mereka tertawa bersama .
Aku mengalihkan pandangan kesisi kanan . Ada dua orang pemuda yang berpacaran dan ya ya semakin mendekat . Ahh, aku tidak mau melihat apa yang mereka lakukan . Disebelah taman yang banyak rerumputan ada sebuah keluarga yang bahagia . Si ibu sedang memapah anak perempuannya dan si Ayah menggendong anak lelakinya yang berumur tiga tahun kurasa .
Ahh Tuhan, aku iri ! Sungguh !
"Adik ngumpulin botol ya?", tiba-tiba seseorang berkacamata mengagetkanku . Aku menoleh kearahnya . "Iya bapak", sahutku . "Disana ada beberapa, diambil aja", dia menunjuk ke arah sudut belakang dan aku mengangguk tanda setuju . "Terimakasih, saya nanti kesitu untuk ngambil, maaf pak jam berapa?" . Dia mengalihkan pandangan ke arah pergelangan tangannya . "Jam dua dik", sahutnya .
Sudah siang juga ternyata, aku harus membeli makanan untuk Anissa . Dia pasti sudah menungguku di rumah . Aku putuskan untuk mengambil botolnya lalu pulang ke rumah .
======================================================================
Annisa memakan makanannya dengan sangat lahap . Nasi bungkus dengan tempe goreng dan bumbu ayam . Lezat katanya . Hanya itu yang bisa aku berikan padanya . Kami makan berdua . Dia adik yang baik . Selalu tersenyum dalam kondisi apapun . Dialah sang penguat hatiku . Dia sangat pintar melukis, walau hanya dengan bantuan crayon dan kertas seadanya, Tapi hari ini Bu Sari yang tinggal dikompleks memberiku seperangkat cat dan kuas, untuk Nisa katanya . Nisa sangat senang menerimanya . Annisa cacat, sedari lahir . Kedua kakinya mengecil , aku kurang tahu apa nama penyakitnya, dia hanya bisa merangkak seperti bayi . Tapi dia sangat berbesar hati .
Kami tinggal berdua di rumah berukuran 3 X 4 M yang terbuat dari tripleks ini . Kami mungkin pernah mengeluh atau merasa tak adil dengan semua ini, tetapi kami selalu bersyukur dan yakin bahwa Tuhan lebih mengetahui segala hal yang terjadi pada hamba-Nya . Kami anak yatim piatu . Ayahku telah dipanggil Tuhan sejak aku berumur dua tahun, aku hanya bisa mendengar ceritanya dari Ibu . Ayah seorang tukang parkir di pasar induk, ia tertabrak truk saat sedang memarkirkannya . Sedangkan ibuku seorang pencari beras yang berjatuhan dari karung atau tidak terpakai lagi . Beliau meninggal karena paru-paru basah . Saat itu kami tidak mempunyai cukup uang untuk berobat, makanpun terkadang diberi tetangga .
"Kakak, nisa boleh melukis ini?", dia menoleh kearahku, menunjukkan gelas aqua dan memegang kuas . Senyumnya semangat .
"Iya, lukis aja sesuka nisa", aku tersenyum kepadanya, mengiyakan . Lalu ia mulai melukis gelas gelas aqua itu dengan tangan lentiknya . Senyumnya mengembang . Aku bahagia melihatnya . Ia anak yang kuat, para tetangga kami pun terkadang sering melecehkannya, mengatainya dengan perkataan yang tidak enak didengar, suster ngesot, anak kambing pincang, atau apalah sebagainya, tetapi Ia hanya tersenyum dan berkata, "Terimakasih ya, berarti kalian perhatian sama Nisa" .
"Nisa, kakak capek, kakak tidur duluan ya, Nisa jangan tidur terlalu malem ya !", ucapku seraya menggelar kardus sebagai alas tidur kami . "Iya, sebentar lagi Nisa tidur . .", jawabnya .
========================================================================
Hari ini aku berjalan di Taman lagi dan tidak sengaja bertemu dengan Bapak yang kemarin memberiku setumpuk botol aqua, namanya Pak Herman ternyata . Dia baik, sebenarnya aku tidak sepenuhnya percaya, namun Ia sangat berbeda dan sangat dermawan . Kami banyak berbincang, ternyata Ia setiap hati ke Taman itu untuk berjogging bersama Istri dan cucunya .
Ia seorang pengusaha anyaman, dari mulai bakul, topi, atau kerajinan tangan lainnya . Istri dan cucunya juga sangat ramah . Aku merasa mempunyai keluarga sendiri, walaupun baru mengenalnya . Aku menceritakan tentang keluargaku, hidupku dan yang lainnya . Sangat Banyak . Ia hanya merespon dengan senyuman, mengangguk, atau terdiam iba .
"Jadi, belum pernah melihat ayah sama sekali?", ujarnya seraya mengelap kacamatanya dengan kain kecil .
"Belum pak, sekedar fotopun tidak ada, saya mendengar cerita cerita dari Ibu saja", jawabku polos .
"Bagaimana dengan keluarga dari Ibu atau Ayah Aisyah? Apa tidak ada yang mengunjungi sama sekali?", kali ini Istrinya yang bertanya .
"Tidak ada, kami hanya tinggal berdua, saya tidak pernah kenal dan bertemu sama sekali dengan keluarga Ayah maupun Ibu", jawabku singkat dan tersenyum kepadanya . Ia mengangguk dan menahan air mata mungkin . Cucunya asyik memainkan tali sepatu merahnya .
"Aisyah mau kerja?", Pak herman menatapku dalam, .
"Kerja apa Pak?, aku membalas tatapannya, tidak percaya .
"Hanya menganyam saja, menganyam bakul, nanti Aisyah tidak perlu pergi ke tempat produksinya, Aisyah cukup menuliskan alamat Aisyah, nanti Bapak bawa bahannya dan Ibu mengajarkannya . Bagaimana?" . Aku menoleh kearahnya, Ia tersenyum memberi kepastian, lalu Aku menoleh kearah Istrinya, Ia tersenyum tenang, mendamaikan hati dan meyakinkanku .
"Iya Pak", aku memantapkan diri dan tersenyum .
Hari itu berlanjut begitu saja . Perbincangan yang panjang dan menyenangkan .
========================================================================
Tidak terasa sudah empat tahun aku bekerja pada Bapak dan Ibu Herman . Ibu Herman sering datang ke rumah, sekedar membawa bahan atau sesekali membawa makanan untukku dan Anissa . Ia sangat baik . Tak pernah sekalipun merasa lelah berteman dan menghadapi kami . Tidak hanya menganyam, Annisa juga melukis bakul bakul yang sudah selesai kami anyam . Penjualan pun meningkat . Bapak dan Ibu Herman sangat baik terhadap kami . Kami tidak tahu bagaimana cara cara membalas kebaikannya . Tetangga lapak kamipun terkadang ikut membantu membuat anyaman .
Seiring dengan semakin banyaknya permintaan, Annisa semakin sering sakit sakitan . Ia sering mengeluh kelelahan namun tetap tersenyum dengan tenang . Bahkan saat aku ingin membawanya ke dokter, Ia menolak . Sakitnya tidak Ia rasakan . Ia terkena paru paru basah seperti ibu . Kakinya pun semakin parah, Ia tidak terlalu kuat duduk berlama lama belakangan ini . Aku khawatir dengan keadaannya . Bapak dan Ibu Herman sesekali membawa dokter untuk sekedar memeriksanya . Udara dan lingkungan yang tidak sehat semakin memperparah keadaannya, namun Annisa tetap saja tidak ingin pindah ketempat lain selain rumahnya . "Rumah ini istana Annisa kak", ujarnya polos .
Ia sekarang benar benar seperti bayi . Wajahnya sering sekali pucat, batuknya semakin menjadi dan hanya bisa tertidur di ranjang kasur kecil yang telah aku beli dari hasil menganyam . Aku terkadang menangis di pinggiran ranjang dan mengelus rambutnya, tapi Ia hanya tersenyum . Aku masih sangat ingat bagaimana cerianya dia dengan cat dan kuasnya, senyum semangatnya, bagaimana tangan lentiknya menganyam, cara Ia memelukku saat aku terlalu lelah mencari botol dulu . Aku masih ingat bagaimana saat kami kehilangan Ibu, dia memelukku sangat erat dan hanya menangis tak karuan . Merasa kehilangan tapi mungkin belum mengerti apa yang terjadi . Aku masih ingat caranya merengek minta dibelikan biskuat di warung Ibu depan .
Tuhan, jangan ambil dia . Aku takut . Hanya dia yang kumiliki .
Tapi malam itu Ia melukis botol aqua yang entah dia dapat darimana diatas ranjangnya . Dia menatapku damai, senyumnya mengembang, "Kakak, ingat ini gak? Ini pertama kali Nisa lukis loh, di botol aqua", wajahnya polos, riang dan seceria dulu . "Iya", aku tersenyum terpaksa menahan kesedihan . "Nanti rumah nisa yang baru pokoknya harus didekat Rumah Pak Herman ya, biar Nisa gak kesepian", dia berkata seperti memohon . Sekali lagi aku mengiyakan dan tersenyum, mengangguk pelan . "Kakak tidur sama Nisa yaa, dibawah aja, pakai kardus", Ia memohon lagi dan sekali lagi aku mengangguk .
Malam itu kami habiskan dengan bercerita tentang bagaimana kami sebelum mengenal Pak Herman, semuanya . Tidak terlewat satupun dan kami terlelap dengan kardus yang kami gelar dilantai . Itulah malam terakhirku bersamanya . Annisa kini sudah beristirahat dengan lebih tenang . Ia dimakamkan di pemakaman dekat rumah Pak Herman sesuai permintaannya . Aku tidak pernah lupai bagaimana senyum diwajahnya ketika aku menyadari bawa Ia telah tiada . Senyumnya indah, seindah lukisan lukisannya .
Selamat jalan adik tercintaku Annisa, kau selalu memberikan semangat di setiap denyut nadiku .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar